17/01/12

Gervinho: Pertahankan Robin Van Persie!



Striker Belanda hanya menyisakan durasi kontrak 18 bulan di Emirates.

Oleh Defanie Arianti


EPL : Gervinho - Robin Van Persie, Blackburn Rovers v Arsenal
Getty Images
Gervinho berharap Arsenal segera memastikan masa depan kapten sekaligus striker andalan mereka, Robin van Persie. Striker anyar The Gunners tanpa ragu menyebut kehadiran van Persie sangat vital bagi tim.
Tidak berlebihan jika mengatakan Van Persie mengangkat performa Arsenal, musim ini. Van Persie mencetak rekor dengan torehan 34 gol sepanjang 2011. Performa spektakulernya melesatkan skuad asuhan Arsene Wenger ke posisi lima klasemen Liga Primer Inggris setelah sempat terpuruk di papan bawah.
Van Persie juga memungkinkan Arsenal lolos ke babak 16 besar Liga Champions
Kontrak van Persie bersama Arsenal akan berakhir di musim panas 2013. Hingga kini, baik van Persie maupun Arsenal belum bisa memastikan masa depan striker Belanda 28 tahun, sehingga mencuatkan spekulasi klub London Utara bakal melepas bintang andalan mereka.
Gerinho berharap hal itu tidak menjadi kenyataan. "Saya tidak ingin adanya penjualan Robin van Persie. Arsenal adalah tim yang membutuhkan pemain serta pemimpin bagus di lapangan," tuturnya kepada Daily Mirror.
"Robin adalah pemain yang bisa mendorong rekan-rekannya bekerja lebih keras dan memberikan upaya lebih saat berada di lapangan. Seperti mimpi bisa tampil bersama dirinya," lanjut Gervinho.
"Van Persie adalah kapten dan pemimpin tim, itu tidak diragukan lagi. Saya bisa melihatnya sejak saya datang pertama kali ke klub ini," pungkasnya.

Mantan bintang AC Milan dan Barcelona menuntut gajinya yang belum dibayarkan selama lima bulan.


Gaji Tak Dibayar, Ronaldinho Boikot Laga Copa Libertadores?

Ronaldinho Gaúcho, atacante do Flamengo  (Crédito: André Portugal/VIPCOMM)
André Portugal/VIPCOMM
Kakak sekaligus agen Ronaldinho, Roberto de Assis, mengungkap keinginan sang adik untuk memboikot laga pembuka Flamengo di ajang Copa Libertadores menyusul perselisihannya dengan klub terkait gaji yang belum dibayar.
Flamengo dikabarkan belum membayar gaji Ronaldinho selama lima bulan terakhir. Roberto pun mengonfirmasi jika adiknya berencana absen dari pertandingan menghadapi Real Potosi sebagai tanda protes. Bahkan, Ronaldinho bisa jadi akan angkat kaki dari klub.
"Saya ingin adanya kesepakatan secepat mungkin, sehingga dia bisa tampil di Libertadores. Tapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi," ujar Roberto seperti dikutip Extra.
Bulan lalu, wakil presiden bagian keuangan Flamengo, Michel Levy, mengklaim bahwa klub telah menyetujui paket kompensasi dengan Traffic, perusahaan yang membayar persentase gaji Ronaldinho.
Namun, Roberto mengklaim, belum ada penyelesaian apapun hingga saat ini.
"Mereka [Flamengo dan Traffic] harus mencapai kesepakatan. Tapi sepertinya hal itu akan sulit."
"Lima bulan sudah berlalu dan belum terjadi apa-apa. Saya sendiri berharap mereka mencapai kesepakatan, mereka tahu itu," pungkasnya.

Andik Vermansyah Gabung Timnas U-21 Persebaya merelakan Andik demi Merah Putih.



Laporan Fahri Rayyana dari Surabaya

Andik Vermansyah - Indonesia U-23 (GOAL.com/Sumarno)
Sumarno
Andik Vermansyah dipastikan akan membela timnas U-21 yang dipersiapakan tampil di turnamen Sultan Brunei. Kepastian itu didapat setelah CEO Persebaya Dityo Pramono memberi lampu hijau.

"Andik akan gabung timnas (U-21)," terang Dityo.

Pemanggilan Andik ke timnas U-21 memang jadi perdebatan di Surabaya. Pemanggilan itu dinilai langkah mundur. Pasalnya, sebelum ini Andik sudah memperkuat timnas U-23. Bahkan, kans pemain produk asli Persebaya ini ke timnas senior juga terbuka lebar.

"Kita bukannya tak paham dengan alasan alasan itu. Sejujurnya, kita juga rasakan hal yang sama. Tapi, bagaimanapun, demi merah putih kita harus berikan pemain terbaik yang kita miliki," tukasnya.

Selain Andik, Persebaya juga menyertakan dua pemain lainnya, yakni Fastabikhul Khoirot dan Miko Ardiyanto. Karena Persebaya masih menjalani laga kontra Persija, ketiga pemain tersebut baru bergabung terlambat sehari dari jadwal yang ditentukan.

"Saya sudah sampaikan masalah ini ke coach Widodo," tukasnya.

Andik sendiri mengaku siap untuk bergabung. "Setelah dari Yogya saya langsung ke Jakarta," ujarnya. (gk-31)

GOAL.com Indonesia Reader's Choice Awards 2011: Rahmad Darmawan Pelatih Terbaik Indonesia Versi Pembaca, Redaksi Pilih RD & Jacksen F Tiago



Pembaca dan redaksi GOAL.com sepertinya mencapai kata sepakat untuk menunjuk Pelatih Terbaik Indonesia 2011. Siapa orangnya?

Rahmad Darmawan - Persija Jakarta (GOAL.com/Aang Kurniawan)
Di level klub, Rahmad Darmawan gagal mengangkat pamor Persija Jakarta. Sedangkan di level timnas, RD, sapaan akrab Rahmad Darmawan juga gagal memberikan medali emas di Sea Games 2011.

Namun demikian, bukan berarti pencapaiannya tidak dihargai oleh pembaca dan redaksiGOAL.com Indonesia.

Buktinya, dari hasil poling yang dibuat pada 1 Januari pada pukul 00.00 dan ditutup pada 14 Januari pukul 23.59, coach RD menjadi pelatih terbaik versi GOAL.com.

Coach RD mengungguli Nil Maizar, pelatih Semen Padang dan arsitek Persipura Jayapura Jacksen F Tiago dalam pengumpulan suara. Dari 5121 suara yang masuk, coach RD mengantungi suara lebih dari 50 persen poling versi pembaca, atau tepatnya 52,31 persen.

Nil Maizar hanya mengantungi 24,7 persen, sementara Jacksen, yang membawa Persipura menjadi juara di Liga Super Indonesia musim lalu, juga membawa timnya ke perempat-final Piala AFC, hanya mengantungi 16,03 persen.

Sedangkan redaksi GOAL.com memposisikan coach RD dan Jacksen F Tiago di posisi yang sama, yaitu pelatih terbaik di Indonesia saat ini.

Dengan menggunakan sistem poin, coach RD mengoleksi poin 85, sama dengan mantan penyerang Persebaya Surabaya itu. Nil Maizar berada di posisi ketiga dengan 53 poin, disusul Aji Santoso dan Sajuri Syahid.

Di bawah ini adalah Profil Nominasi Pelatih Terbaik 2011
 
AJI SANTOSO | 6 April 1970
Berhasil membawa Persebaya 1927 memuncaki klasemen paruh musim Liga Primer Indonesia (LPI) sebelum akhirnya kompetisi dihentikan, Aji Santoso disebut-sebut menjadi kandidat pelatih timnas U-23. Namun, Aji kalah bersaing dengan Rahmad Darmawan, sehingga menjadi asisten. Kini, nama Aji kembali difavoritkan menangani timnas U-23. Sebagai pelatih, prestasi terbaik Aji adalah mengantarkan tim PON Jawa Timur meraih medali emas PON Kaltim 2008.

JACKSEN FERREIRA TIAGO | 28 Mei 1968
Tahun 2011 merupakan masa indah bagi Jacksen F Tiago. Setelah berhasil menjadikan Persipura Jayapura juara Superliga Indonesia (ISL) 2010/11, tim Mutiara Hitam juga menembus perempat-final Piala AFC 2011. Jacksen membuat Persipura tampil konsisten tahun ini. Musim ini dia belum mendampingi tim karena harus ke Brasil mengikuti kursus kepelatihan sekaligus mendapat penghargaan dari Asosiasi Pelatih Profesional Rio de Janeiro bernama Trophy Mario Jorge Lobbo Zagallo.

NIL MAIZAR | 2 Januari 1970
Ditunjuk menggantikan Arcan Iuri sebagai pelatih Semen Padang, banyak yang pesimistis Nil Maizar bisa memberikan hasil bagus. Namun, tim Kabau Sirah berhasil dibawa menempati empat besar klasemen ISL 2010/11 dari debutnya di kompetisi tertinggi itu. Musim lalu Semen Padang bertransformasi dari sebuah tim promosi hingga memiliki harapan beraksi di kompetisi Asia. Kabau Sirah memang gagal ke Asia, tetapi mereka sukses mempertahankan posisi di papan atas klasemen Superliga Indonesia. Musim ini Semen Padang beraksi di Liga Prima Indonesia dan untuk sementara berstatus pemuncak klasemen dengan delapan poin, unggul selisih gol dari Persija IPL.

RAHMAD DARMAWAN | 28 November 1966
Musim lalu Rahmad Darmawan gagal membawa Persija Jakarta ke Liga Champions Asia karena kalah selisih gol dengan Arema Indonesia hingga tim kebanggaan Ibu Kota tersebut harus puas menempati peringkat ketiga klasemen akhir Superliga Indonesia 2010/11. Meski demikian, dengan segudang prestasi sebelumnya dia dipercaya membesut timnas U-23 yang kemudian mempersembahkan medali perak SEA Games 2011 di Jakarta.

SAJURI SYAHID | 1 Desember 1967
Di luar stadion sosok ini dikenal kalem tetapi sikapnya di pinggir lapangan jauh berbeda. Sajuri sudah lama mengabdi pada Persiba Bantul dan memulai karirnya sebagai asisten pelatih Andi Lala di tahun 2003. Di paruh kedua musim lalu, Sajuri dipercaya menjadi pelatih kepala menggantikan Eduard Tjong. Tidak tanggung targetnya adalah promosi dari Divisi Utama dan dia sanggup menjawabnya dengan baik.


Bagaimana pendapat Anda? Setuju dengan hasil di atas? Kami dari GOAL.com Indonesia ingin mengetahui komentar Anda melalui formulir di bawah ini. Sampaikan juga ide dan saran Anda, supaya Readers' Choice Awards 2012 bisa lebih baik lagi. Terima kasih atas partisipasinya.

Udinese Pinjamkan Thierry Doubai Ke Sochaux



Sochaux mendapat tambahan gelandang baru dari Udinese.

Bonus pertama kali deposit hingga IDR 2880000 dengan 188BET

Oleh M Yanuar F

Axpo Super League,Thierry Doubai of BSC Young Boys(Gettty Images)
Thierry Doubai bergabung dengan Sochaux di sisa musim ini dengan status pinjaman dari klub Serie A Italia Udinese.

Diungkapkan Sochaux dalam situs resmi mereka, pihak mereka memiliki opsi untuk menggaet pemain tengah berusia 23 tahun itu secara permanen di musim berikutnya jika tampil menjanjikan.

Doubai sendiri bermain sekali membela Udinese di musim ini dan kalah bersaing dari pemain lain sebelum akhirnya dilepas ke Sochaux.

16/01/12

Pep Guardiola Sanjung Sergio Busquets



Pelatih Barcelona ini mengaku jika bisa bereinkarnasi sebagai pemain, pilihannya ingin menjadi seperti Sergio Busquets.

Oleh MT Rizky

Pep Guardiola - Barcelona
Pep Guardiola - Barcelona
Pelatih Barcelona Pep Guardiola memberikan sanjungannya kepada Sergio Busquets. Pep melihat begitu banyak kesamaan antara dirinya dan Busquets.

Saat ini Busquets akan menandai penampilannya yang ke-100 bersama Barca.

"Kalau boleh bereinkarnasi sebagai pemain, saya sejujurnya ingin bisa seperti dia [Busquets]," kata Pep.

"Dia itu adalah gelandang bertahan terbaik di dunia saat ini. Dia itu sungguh pemain yang tak ternilai harganya buat Barca."

Sergio Busquets Gembira Disanjung Pep Guardiola



Sergio Busquets mengaku bangga kerja kerasnya diakui oleh Pep Guardiola.


Sergio Busquets, Barcelona
Getty Images
Gelandang Barcelona Sergio Busquets mengaku bangga mendapatkan pujian dari pelatih Josep Guardiola.

Seperti yang diketahui, sebelum laga menghadapi Real Betis, Guardiola memuji Busquets sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia.

"Saya sangat bangga dengan kata-kata tersebut. Sungguh menyenangkan kerja keras anda diakui," ungkap Busquets.

SPESIAL: Pemain Terbaik Yang Tak Pernah Menangi Ballon d'Or



Xavi hanyalah satu dari sekian banyak pemain kelas wahid dengan torehan fantastis, baik bagi klub maupun timnas, yang tak pernah mencicipi titel Ballon d'Or.

Oleh Anugerah Pamuji

Messi , Xavi, Ballon D'or 2011
Getty
Ballon d'Or edisi kali ini melahirkan kembali pesepakbola terjago yang identik seperti dua tahun sebelumnya, dia adalah Lionel Messi. Yah, di malam penganugerahaan yang digelar di Zurich beberapa waktu lalu itu, mega bintang Barcelona ini akhirnya berhasil mengklaim titel pribadi paling prestisius ini untuk kali ketiga secara beruntun. Sukses ini menyejajarkan Messi dengan legenda sepakbola termasyhur seperti Johan Cruyff, Marco van Basten, yang mencatatakan tiga Ballon d'Or, dan Michel Platini -- legenda Prancis yang juga mampu merengkuh Ballon d'Or hat-trick secara berturut-turut.

Walau demikian, tak sedikit yang memperdebatkan kelayakan Messi merebut gelar itu untuk tahun ini. Bahkan bomber asal Argentina itu disebut tidak pantas bila hanya merujuk pada 59 golnya, 35 asis dan lima trofi yang dia hadirkan sepanjang 2011 bagi Los Blaugrana. Semua mata analis sepakbola dunia justru kini mengindahkan sosok Xavi, gelandang elegan yang cuma bisa merengkuh gelar perunggu selama tiga tahun berturut-turut di bawah bayangan Messi. Tak sedikit pula yang menyebut kans Xavi untuk memenangkan Ballon d'Or sudah tertutup [merujuk pada umur sang gelandang].

Miris memang bagi Xavi. Anda mungkin tidak lupa bukan betapa catatan kontribusi yang dia berikan baik bagi Barcelona maupun timnas Spanyol tidak main-main. Gelar Piala Dunia 2010 yang ia hadirkan kemarin mungkin bisa menjelaskan pada Anda betapa Xavi amat sangat pantas disebut "best centre midfielder of all time". Liga Champions? Gelar itu mungkin tidak akan didapatkan bagi Barca tanpa campur tangan Xavi. "Tukang servis" Messi di Barca ini memang masih bisa kita sebut sebagai gelandang berkelas untuk dua-tiga tahun mendatang, tapi mungkin sulit untuk mengesahkan namanya dalam balutan titel Ballon d'Or. Sejatinya, tahun inilah peluang Xavi menasbihkan namanya dalam sejarah.

Xavi bukan satu-satunya legenda sepakbola kelas dunia yang terlupakan. Bila kita mengamati jauh sebelum era sepakbola modern, setelah Stanley Matthews di tahun 1956 yang menjadi orang pertama memenangkan Golden Ball, Masih ada banyak lainnya nama-nama kelas wahid dengan segudang torehan prestasinya yang terlupakan di mata dunia dan tak pernah memenangi Ballon d'Or. Siapa-siapa saja dia? GOAL.com akan menjabarkan di bawah ini.

Namun perlu ditegaskan, apa yang akan dibahas sekarang ini tidak hanya berbicara soal pemain terbaik dunia sepanjang masa, tapi mereka-mereka juga yang telah berhasil menaklukkan dunia -- baik performanya selama semusim maupun dalam beberapa periode tertentu -- dan mungkin sudah sepantasnya nama mereka masuk dalam daftar pemenang Ballon d'Or. Dan Perlu digarisbawahi juga, Ballon d'Or sebelum di tahun 1995 saat menelurkan nama goerge Weah, striker asal Liberia, hanya pemain-pemain dari Eropa yang bermain untuk klub Benua Biru lah yang masuk dalam kriteria perhitungan. Alhasil, nama-nama wahid dari latin seperti Diego Maradona, Pele dan pemain-pemain non Eropa lainnya yang bersinar sama sekali tidak dianggap, kecuali bila mereka semua mencuat di pertengahan 1990, sampai dewasa ini pun Ballon d'Or kemudian di-merger dengan penghargaan Pemain Terbaik Dunia FIFA menjadi FIFA Ballon d'Or sejak 2010 lalu.

KIPER

Legenda Uni Soviet Lev Yashin menjadi satu-satunya kiper yang sukses mencaplok gelar Ballon d'Or di tahun 1963, akan tetapi bila berbicara apa tidak ada lagi kiper terbaik di era lampau? Jawabannya ada! Tapi tidak seberuntung Yashin.

Memasuki tahun 1970, nama Sepp Maier muncul ke permukaan berkat performa gemilangnya. Ia bahkan bisa disebut salah satu kiper nomor satu terbaik di dunia pada paruh pertama di dekade tersebut. Ia menjadi bagian dari sukses Bayern Munich memenangkan tiga titel beruntun di kompetisi Eropa, mengantar Jerman berjaya di Euro 72, dan dua tahun selanjutnya ia kembali mengantarkan tim Panser menggondol trofi yang lebih bergengsi, Piala Dunia. Sayang beribu sayang, kebintangan Maier tertutupi oleh dua superstar Jerman ketika itu, Franz Beckenbauer dan Gerd Muller yang keduanya tidak pernah absen dari tiga terbaik dunia selama delapan tahun.

Kemudian aksi Dino Zoff di tahun 1973 yang mampu menjaga gawangnya dengan mencatat rekor tidak kebobolan selama 21 bulan hanya diapresiasi dengan gelar perak. Ia kalah dari Johan Cruyff, yang dianggap paling pantas memenangkan Ballon d'Or usai memimpin Ajax meraih gelar ketiganya di ajang Eropa. Raksasa Belanda itu mengalahkan Juventus-nya Zoff 1-0 di final. Karier Zoff sejatinya kembali mengangkasa saat dia berhasil mengangkat gelar Piala Dunia 1982 di usia 40. Di tahun itu pula ia memberikan enam gelar Scudetto bagi Juventus. Namun apa boleh bikin, aksi menawah Paolo Rossi, rekan setim Zoff, yang mencetak enam gol di Spanyol berhasil "menjatuhkan" pamor sang kiper untuk kemudian meraih gelar Ballon d'Or. Perlu diperdebatkan lagi memang, apakah sebetulnya Rossi pantas mengklaim Ballon d'Or ketika itu  sebab sebelum pentas Piala Dunia digelar ia lebih banyak mendekam di luar lapangan akibat terkena sanksi larangan bertanding dalam jangka panjang.

Ballon d'Or di tahun 1992 mungkin pantas disematkan pada sosok Peter Schmeichel yang secara epik dan mencengangkan dunia sukses mengantar timnas Denmark menganjung trofi Euro '92. Tapi lagi-lagi prestasi bukan jaminan mutlak. Justru Marco van Basten lah yang dianugerahi Ballon d'Or di tahun itu. Ironisnya, pada semi-final Euro di tahun tersebut, Schmeichel berhasil mengagalkan penalti van Basten di semi-final sebelum Denmark melaju ke partai puncak. AC Milan yang dibela van Basten juga terdepak dari ajang Eropa di edisi 91/92, meski pada akhirnya mungkin catatan 29 gol di kancah domestik dan mengantar Milan ke tahta Scudetto yang menjadi bahan pertimbangan van Basten meraih Ballon d'Or. Tapi jika Anda melihat perjuangan dramatis Manchester United-nya Schmeichel di Liga Champions edisi 1999, apakah Anda mau membantah betapa gigihnya combeback mustahil Setan Merah saat mengalahkan Bayern Munich di final? Yang mana kemenangan di ajang Liga Champions itu pun mengukuhkan status United sebagai treble-winners di tahun itu.



Oliver Kahn
 turut pula menjadi salah satu legenda terlupakan di tahun 2001-2002. Aksi briliannya di final Liga Champions dengan mengalahkan Valencia dalam drama adu penalti benar-benar tidak dianggap. Tiga algojo berhasil ia bendung untuk memberdirikan timnya di podium juara di musim itu. Tapi apa lacur, Michael Owen dinilai paling pantas duduk di tahta Ballon d'Or atas kepahlawanannya mempersembahkan Piala FA, Piala Liga dan Piala UEFA bagi Liverpool. Apakah catatan itu lebih agung dibanding milik Kahn?

Di era modern ini, kembali dua nama sohor "terasingkan". Adalah Gianluigi Buffon dan Iker Casillas, dua kiper yang memenangkan Piala Dunia 2006 dan 2010 dengan hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen. Keduanya berjibaku mengamankan gawangnya selama final Piala Dunia, Buffon membuat penyelamatan krusial dengan membendung aksi berbahaya Zinedine Zidane dan Casillas yang menghentikan pergerakan Arjen Robben dalam posisi satu lawan satu. Khusus Casillas, jangan lupakan pula karena dua tahun sebelum Piala Dunia itu ia sudah mempersembahkan gelar Euro 2008 bagi tim Matador. Sementara Buffon pada akhirnya kalah kelas dari Fabio Cannavaro yang menempatkan diri di posisi pertama Ballon d'Or dan sang kiper harus rela jadi runner-up. Casillas? Sepertinya menjadi sebuah ironi tersendiri melihat Spanyol yang dalam beberapa tahun terakhir mendominasi dunia tapi tak satupun pemainnya bisa beridiri di podium Ballon d'Or. Yah, mencengangkan!
BEK

Jika di sektor kiper cuma ada satu nama yang pernah memenangkan Ballon d'Or, di jajaran bek dunia juga hanya ada sedikit. Mereka adalah Franz Beckenbauer, Matthias Sammer dan Fabio Cannavaro. Sekali lagi Ballon d'Or seperti menunjukkan favoritisme pada pemain-pemain yang bernaluri menyerang.

Favoritisme itulah yang kemudian menghalangi para legenda-legenda defender wahid untuk menjadi yang terbaik dunia. Terlepas dari tiga nama bek di atas yang sukses menasbihkan diri sebagai yang tersohor seantero dunia, pernahkan kita menyadari momen spartan yang diukir bek-bek seperti Bobby MooreFranco Baresi dan Paolo Maldini? Dimulai dari Moore. Di tahun 1966, Moore mengapteni Inggris dan membawa tim Tiga Singa mendominasi dunia, tapi lihat, ia hanya menjadi runner-up Ballon d'Or setelah empat tahun berselang. Adalah Bobby Charlton yang dianggap paling berjasa atas sukses besar Inggris, terlebih dobel golnya di semi-final dengan mengalahkan Portugal.

1987-1992 menjadi masa supremasinya duo Belanda yang membela AC Milan Ruud Gullit dan van Basten. Mereka berdua mampu memproduksi empat Ballon d'Or berkat aksi-askinya selama periode tersebut. Hal yang membuat nama Baresi tenggelam dan seolah benar-benar mempertegas kalau tidak ada bek yang bisa menandai diri mereka dengan label terbaik dunia. Padahal di masa itu, campur andil Baresi bagi Milan sulit ditampik. Dunia mengakui kalau pertahanan Milan di era Baresi merupakan barisan palang pintu terkokoh sepanjang masa. Baresi menjadi sosok kapten, pemimpin, namun tetap yang terlupakan dan jauh dari keberhasilan menggaet gelar Ballon d'Or.

Masih ada nama dari Milan lainnya. Apakah Anda loyalis Rossoneri mau melupakan begitu saja jasa-jasa luar biasa sang ikon, Paolo Maldini? Hampir seperempat abad kariernya dihabiskan hanya berbakti pada Milan. Disebut-sebut sebagai bek kiri terbaik sepanjang masa, pemenang tujuh Scudetto dan lima ajang Eropa di antara gelar-gelar lain yang dihadirkan Maldini. Tapi Ballon d'Or? Maldini tidak punya. Perjalanan emas Maldini dimulai dari final Liga Champions 1994 saat Rossoneri sukses menjungkalkan Barcelona dream-team ala Cruyff 4-0. Di tahun itu juga, Maldini menjadi bagian tak terpisahkan dari Scudetto Milan dan melenggangnya Italia di final Piala Dunia menghadapi Brasil. Bukankah luar biasa?

       TIGA BEK IKON YANG TAK PERNAH MENANGI BALLON D'OR
MooreBaresiMaldini

Namun selain tiga ikon itu, masih banyak bek-bek lainnya yang layak mendapatkan tempat untuk merebut Golden Ball. Giaconto Facchetti [pilar Inter yang memenangkan Liga Champions pada 1965], Paul Bretner [mencetak gol di dua final Piala Dunia], Andreas Brehme [mungkin bisa disebut salah satu bek kidal terbaik Jerman yang mencetak gol di babak 16 besar, semi-final dan tendangan penalti di final Piala Dunia 1990, dan dinilai sebagai libero terbaik dalam sejarah setelah era Franz Beckenbauer], lalu ada Roberto Carlos [yang berperan penting dalam kejayaan Madrid di Liga Champions dan Piala Dunia pada 2002, namun yang memenangkan Ballon d'Or adalah Ronaldo, padahal ia banyak berkutat dengan cedera], kemudian Lilian Thuram [sukses di Piala Dunia 1998 dan Euro 2000], nama-nama semacam Berti Vogts dan Uli Stielike [Jerman], Ruud Krol [Belanda] dan bek Italia lainnya seperti Alessandro Nesta tinggallah sebuah sosok yang tak terindahkah.

GELANDANG

Pemain yang bermain di posisi ini memang belum banyak mendapat pengakuan sebagai yang terbaik seantero dunia, namun tetap saja ada beberapa legenda yang sepatutnya tidak kehilangan gelar Ballon d'Or. Jika di edisi kali ini Xavi yang mengalami nasib malang, jauh 40 tahun silam sudah mencuat pula perdebatan tentang siapa sebetulnya sosok gelandang terbaik dunia. Playmaker Gunter Netzer mungkin punya kisah serupa layaknya gelandang Barcelona itu. Bintang Borussia Mochengladbach ini mungkin menjadi pemain yang paling bersinar di laga kontra Inggris di Wembley pada perempat-final Euro 1972. Tak sampai di situ, berkat tenaganya jugalah yang menginspirasi Jerman memenangkan Euro edisi kali itu. Namun Di tahun tersebut, Netzer hanya menjadi pemanis dua rekannya yang mengklaim tempat pertama dan kedua dalam Bellon d'Or tahun 72, Franz Beckenbauer dan Gerd Muller.

Netzer juga bukan satu-satunya gelandang serang Jerman berkelas yang gagal ternobatkan sebagai juara Ballon d'Or. Di era 70-an, ada juga nama seperti Wolfgang Overath, yang bahu membahu bersama Netzer di Piala Dunia 1970 dan 1974. Untuk Piala Dunia terakhir keduanya sukses menghadiahkan publik Jerman trofi lambang supremasi sepakbola dunia itu. Dan Wolfgang pun menjadi salah satu pemain terbaik di pesta sepakbola empat tahunan tersebut.



Berbeda dengan Xavi ataupun Andres Iniesta yang menajdi pahlawan penentu kemenangan Spanyol atas Belanda di final Piala Dunia 2010 namun belum pernah mencicipi Ballon d'Or. Kilas balik ke era 50-60-an, La Furio Roja punya senjata rahasia mematikan. Dia adalah Luis Suarez, pemenang Ballon d'Or 1960. Akan tetapi sepertinya gelar Ballon d'Or untuk Suarez itu terasa tidak adil bila tidak memperhitungkan kontribusi brilian pemain seperti Francesco Geto -- salah satu winger terbaik di masanya -- yang menjadi kunci kedigdayaan Madrid dalam memenangkan lima Liga Champions pertama klub bersama Alfredo Di Stefano dan Ferenc Puskas. Tapi sekali lagi, selalu ada kolega yang lebih memiliki high-profile untuk menutupi kegemilangannya.

Masih berbicara seputar Madrid, banyak kalangan percaya Bernd Schuster seharusnya pantas memenangkan Ballon d'Or 1980. Ia dinilai lebih berjasa ketimbang Karl-Heinz Rummenigge yang di tahun itu memang menghadiahi Jerman Barat gelar Euro di Italia. Akan tetapi, di usia 20 tahun, Schuster diklaim sebagai Player of the Tournament bersama pemain Belgia Wilfried van Moer. Walau begitu, catatan Rummenigge di tahun tersebut dengan memenangkan gelar Bundesliga, mencapai semi-final Piala UEFA dan torehan 31 gol bagi klub di musim 1979-80 sudah cukup bagi dirinya untuk mengunci Ballon d'Or.

Milan di zaman Arrigo Sacchi pada era 80-an juga punya banyak cerita epik terkait sosokFrank Rijkaard, pemegang dua kali perunggu Ballon d'Or yang kerap dinilai pantas memiliki lebih dari itu. Akan tetapi, prestasi besar Rijkaard dianggap tak sebanding dengan torehan partner Belanda-nya, Ruud Gullit dan Marco van Basten, yang mengklaim tiga gelar Ballon d'Or di dekade tersebut. Rijkaard hanya menjadi bayang-bayang kedua koleganya itu kendati ia menjadi bagian vital dalam kemenangan di final Liga Champions pada 1990 dan di final Piala Interkontinental tahun itu. Belum lagi nama-nama seperti Dragan Dzajic, Jimmy Johnstone, Sandro Mazzola, Johan Neeskens, Jean Tigana, dan Alain Giresse. Mereka semua tida bisa dispelekan untuk disebut sebagai penantang serius Ballon d'Or.

PENYERANG

Lebih dari 30 perengkuh Ballon d'Or sejak 1956 didominasi dari barisan penyerang, namun ada beberapa bomber legenda yang tampaknya perlu diperhatikan. Ferenc Puskasmisalnya. Kendati ia memenangkan kejuaran Eropa di usia kompetisi yang baru terlahir, nyatanya Puskas hanya menjadi bayang-bayang di belakang Luis Suarez untuk sekedar menjadi nomor dua pada 1960. Di tahun-tahun awal diresmikannya Ballon d'Or, Hungaria berjaya dengan membekuk Inggris 6-3 di Wembley. Rasanya gelar terbaik dunia pantas disematkan pada Puskas di masa itu. John Charles juga dielu-elukan sebagai pesepakbola Inggris terhebat sepanjang masa, mendapatkan suara terbanyak sebagai pemain asing terbaik di Serie A bergabung dengan Maradona dan Platini, torehan golnya juga bagi Juventus benar-benar ciamik [105 gol dalam lima musim] serta tiga Scudetto. Masih kurang pantaskah Ballon d'Or lantas berada dalam genggaman Charles? Hanya karena kegagalan Bianconerri di kancah Eropa menjadi kunci kekalahan dirinya merebut Ballon d'Or dan pada akhirnya harus puas hanya menempati tiga besar pada 1959.

Namun Charles tidak sendiri menjadi pemain yang terpinggirkan dari status terbaik dunia. Ada nama mentereng seperti Thierry Henry, Legenda Arsenal yang sekarang ini kembali memperkuat klub yang telah melambungkan namanya tersebut untuk jangka pendek, yang menemani Charles. Agaknya torehan 226 gol dan dua persembahan Liga Primer Inggris belum cukup untuk mengukuhkan pemain milik New York Red Bulls ini memenangkan Ballon d'Or. Apa memang kontribusi Henry masih terbilang kurang untuk the Gunners? Coba tengok di musim 2004. Arsenal mengalami fase yang amat sulit ditandingi tim-tim lain. Betapa tidak, Arsenal-nya Henry menyapu bersih semua pertandingan Liga dengan tak terkalahkan dan sang penyerang membukukan 39 gol di semua kompetisi. Alasannya mungkin merujuk pada kegagalan Henry membawa Prancis berjaya di Euro 2004, sementara Andriy Shevchenko menggebrak setahun setelahnya untuk mengklaim Ballon d'Or. Henry? sepertinya memang tidak "dijodohkan" memenangkan gelar pribadi paling bergengsi tersebut.

Selain Charles, Juve juga punya nama lain yang tak masuk perhitungan namun kontribusinya fantastis selama satu dekade. Dia adalah Michael Laudrup. Pemain Denmark itu menggebrak dunia di usia belianya pada 1982-83. Yah, Laudrup mencuri hati dunia ketika melakukan impak besar di Juve, Barcelona, Real Madrid dan tentu saja bersama Denmark di Euro '84 dan Piala Dunia '86. Partnernya di lini depan bersama si 'Danish Dynamite', Preban Elkjaer, menjadi momok yang ditakuti di Eropa di pertengahan 1980. Membawa Scandinavians ke semi-final Euro, dan menghadiahi Verona satu capaian historic, Scudetto, setahun berselang. Tapi bagaimanapun, nama Platini tak bisa dipatahkan oleh Elkjaer yang di 80-an sukses mengukir hat-trick.

                TIGA LEGENDA YANG TAK PERNAH RAIH BALLON D'OR
PuskasElkjaerHenry

Momen paling dramatis bagi Paltini terjadi di final Piala Eropa 1985, di mana ditandai dengan penegasan hat-trick Ballon d'Or. Rivalnya pada saat itu adalah Kenny Dalglish, legenda terpinggirkan lainnya yang dianggap pantas menjadi yang tersohor di jagat sepakbola dunia setelah dominasi timnya, Liverpool, sanggup menguasai Eropa selama delapan tahun dan mendulang tiga titel di ajang terbaik Benua Biru. Pria yang kini membesut the Reds itu mencetak gol tunggal penentu juara Liverpool di final Liga Champions 1978, dan itu merupakan musim terbaiknya bersama klub terlebih karena catatan 31 gol-nya. Ditambah tidak adanya pemain yang menonjol selama bergulirnya Piala Dunia 1978, Dalsglish semestinya pantas dinobatkan menjadi nomor satu dunia. Tapi kenyataan berbicara lain. Tidak ada nama Dalglish dalam daftar nominasi tiga besar Ballon d'Or.

Beralih ke bintang sepakbola modern yang semestinya patut merasakan Ballon d'Or adalah legenda hidup Real Madrid, Raul. Meski ia tak bisa memberikan angin segar bagi timnas Spanyol, rekor 323 gol, enam gelar La Liga, dan tiga di ajang Eropa, dan sejumlah momen-momen magic bagi Madrid sepertinya tak salah menempatkan Raul di jajaran pesohor Ballon d'Or. Sayang, hal itu tak pernah terjadi sama sekali. Selanjutnya Pada 2001, kita semua tak lupa bagaimana Raul berhasil membawa Madrid memenangkan La Liga dengan catatan rekor gol menakjubkan yang belum pernah ia capai sebelumnya. Tak salah rasanya bila Raul pantas berada di atas Michael Owen untuk mengkudeta Ballon d'Or pada tahun tersebut.

Bagaimana dengan sepak terjang Wesley Sneijder sepanjang 2010? Treble gelar bersama Inter, final Piala Dunia 2010 bersama Belanda, belum cukup pantaskah sang playmaker mendapatkan Golden Ball? Samuel Eto'o yang mencatatkan diri sebagai pemain yang merasakan dua kali final Liga Champions beruntun dan andil besarnya dalam treble-winners Inter?

Pantas saja bila Messi setelah disahkan menjadi pemain terbaik dunia untuk ketiga kali berutut-turut kemudian mendedikasikan dan "membagi" gelar pribadinya itu untuk Xavi.



Silakan ikuti polling di bawah ini untuk memilih pemain terbaik dunia yang tak pernah menangi Ballon d'Or... 

Pelatih Bologna: Napoli Tak Pantas Dapat Penalti



Hukuman penalti baru diberikan jika pemain dengan sengaja menyentuh bola di kotak terlarang...

Oleh Gunawan Widyantara

Stefano Pioli - Bologna (Getty Images)
Getty Images
Meski harus puas pulang dengan satu poin dari kandang Napoli, pelatih Bologna Stefano Pioli mengeluarkan pujian setinggi langit atas penampilan skuad polesannya.

"Kami tampil impresif. Bukan pekerjaan mudah bermain di Naples dan pulang dengan kepala tegak karena organisasi tim dan stok pemain lawan sangat bagus," kata Pioli pada Sky Sports.

"Bologna sempat menderita namun setelah keluar dari kesulitan, Napoli tidak pernah lagi bisa membahayakan gawang. Sayang kami harus dihukum penalti, ini merusak permainan."

Pioli menilai keputusan wasit menunjuk titik putih kurang tepat.

"Regulasi handball jelas. Penalti harus diberikan ketika seorang pemain kedapatan dengan sengaja menyentuh bola di kotak terlarang. Pemain saya tidak melakukan hal itu," cetusnya.